Seorang Guru dan Peternak Sukses Omset 8 Miliar Sebulan

Di sela-sela kesibukannya sebagai pengajar, guru SMAN 53 Jakarta Timur berhasil menancapkan bisnis peternakan ayam yang beromset Rp 7-8 miliar per bulan.Sudirman Bur memang bukan Umar Bakrie—lagu satire mengenai guru karya Iwan Fals—meskipun sama-sama dalam profesi guru. Itu sebabnya, dalam menjalankan tugasnya sehari-hari sebagai Kepala Sekolah SMAN 53 Jakarta, Sudirman tidak menunggang sepeda kumbang melainkan mengendarai Honda CRV.

(Baca Juga : Pak Agung Peternak Ayam Broiler Sukses )

Tetapi tak ada yang perlu diherankan, karena selain menjabat sebagai kepala sekolah di sebuah SMA yang memiliki gedung baru berlantai tiga itu, Sudirman adalah seorang pengusaha peternakan ayam potong yang sangat sukses. Dalam sebulan, omset bisnis pak guru ini bisa tembus antara Rp 7-8 miliar. Rome was not built in a day, kota Roma tidak dibangun dalam sehari. Itu juga yang menjadi amsal dari kisah perjalanan Sudirman.

Sebelum menjadi peternak ayam potong yang bisa memproduksi ayam pedaging 800 ribu ekor per bulan, Sudirman memulainya dengan skala rumah tangga, 300 ekor ayam. Bahkan ketertarikan Sudirman terhadap spesies unggas ini terjadi jauh-jauh hari, yakni ketika ia masih duduk di bangku sekolah lanjutan pertama (SMP). “Saya sangat tertarik dengan strain baru dari luar negeri.

Apalagi kemampuan bertelur dari strain baru itu sangat bagus,” ujarnya. Meski hanya sambilan sepulang sekolah, namun Sudirman sempat memelihara sampai 500 ekor, suatu jumlah yang sangat lumayan untuk seorang anak SMP. Hobi memelihara ayam ini sempat terhenti setelah ia lulus SMA dan melanjutkan sekolahnya ke IKIP Rawamangun. “Ketika saya kuliah justru sambilan saya sebagai pedagang kaki lima,” kenang Sudirman.Ketertarikannya untuk kembali menggeluti ternak ayam muncul setelah ia merampungkan kuliahnya pada tahun 1981. Aktivitas ini ia lakukan selepas ia mengajar di SMA 54 sebagai guru honorer.

“Masih banyak waktu yang terluang selepas mengajar,” ungkapnya.Dengan pertimbangan memelihara ayam petelur lebih rumit, Sudirman memutuskan untuk beternak ayam pedaging. Mula-mula hanya 300 ekor, tetapi lama-kelamaan berkembang dan jumlahnya mencapai ribuan ekor. “Meski pada saat perintisan belum bisa berkembang pesat tetapi saya mempunyai keyakinan beternak ayam potong ini sangat prospektif karena pasar di Jakarta terbuka luas,” terangnya.

Prospektifnya pasar ayam pedaging, imbuhnya, karena berkembangnya kebutuhan masyarakat terhadap sumber protein hewani. Sementara untuk daging merah, seperti daging sapi, dalam pemeliharaannya membutuhkan beberapa prasyarat, di antaranya lokasi usaha yang luas. “Jadi beternak ayam pedaging lebih simple,” ujarnya seraya mengimbuhkan dari sisi cash flow beternak ayam pedaging juga lebih lancar karena dalam waktu 30 hari sudah bisa dipanen. “Jumlah konsumen ayam pedaging juga mendekati 7 persen dari populasi penduduk Jakarta,” paparnya.

Selain memerankan diri sebagai produsen ayam pedaging, pada pagi hari sebelum mengajar, Sudirman juga berprofesi sebagai pedagang ayam potong di pasar Pondok Gede. “Sebagaimana pedagang ayam potong lain saya selalu mengenakan sepatu boot, karena lingkungannya memang becek,” imbuhnya. Yang membedakan Sudirman dengan pedagang lain adalah kemampuan manajemennya.

Oleh karena itu, belum lama berselang berprofesi sebagai pedagang ayam potong, ia berhasil naik pangkat menjadi ‘koordinator’ dari sejumlah pedagang lainnya. Pada saat itu ayam hasil produksi sendiri sudah tidak mencukupi sehingga Sudirman mulai mencari pemasok dari peternak ayam lain.Seiring berjalannya waktu keyakinan Sudirman membuahkan hasil.

Usaha peternakan ayamnya mulai bertambah. Lokasi peternakan yang semula di Pasar Minggu semakin tersebar di Lenteng Agung dan Depok. Meski cukup berkembang pesat, sampai tahun 1990, Sudirman masih menggeluti bisnis ini sendirian. Melihat perkembangan usaha ini sejumlah rekannya kemudian ikut bergabung dalam bisnis yang dipayungi Berkah Group ini. “Sampai sekarang ada sekitar 30 orang yang tergabung di dalamnya,” ucap pria yang mengaku happy menjadi guru ini. Sekalipun usaha peternakan ayam ini kelihatan mulus, sejatinya dalam perjalanannya sendiri juga penuh dengan risiko dan kendala. Selain harga ayam cenderung fluktuatif, yang tentu saja memerlukan perhitungan dan antisipasi yang cermat, sejumlah penyakit yang sering menyerang unggas ini juga potensial membuat usaha tersebut merugi. “Meski usaha ini sudah berjalan stabil tak jarang kami juga menderita kerugian sampai Rp 1 miliar dalam satu periode tanam. Itu sebabnya kami mencadangkan dana antara Rp 3-5 miliar untuk menjaga kemungkinan yang tidak diinginkan itu,” ungkap pengusaha yang pernah menyabet penghargaan sebagai peternak ayam dengan teknik produksi terbaik se-Jawa Barat ini.

Situasi yang lebih sulit lagi pernah dialami oleh Sudirman. Saat krisis moneter melanda negeri ini, usahanya juga ikut terguncang. Harga jual ayam jauh lebih rendah dari nilai modal yang digelontorkan sehingga banyak peternak ayam yang merugi. Bahkan banyak di antara mereka yang terpaksa mendapat vonis gulung tikar. “Saya pun terpaksa harus menjual empat mobil untuk bisa tetap bertahan di bisnis ini,” kata Sudirman, mengenang masa sulit. “Saking sulitnya keadaan waktu itu saya yang sebenarnya bukan perokok akhirnya jadi perokok juga.” Pada kondisi ini integritas dirinyalah yang banyak menolong. Kejujuran dan kepercayaan, yang dijadikan fundamental bisnisnya, merupakan juru selamat di saat krisis tersebut. Pada waktu itu kandang ayam Sudirman banyak yang kosong. “Melihat kondisi ini pabrik pemasok kebutuhan bibit dan pakan peternakan ayam mendatangi saya.

Mereka menyuruh saya untuk mengisi semua kandang yang kosong, bahkan mereka menyuruh saya menyewa kandang milik peternak lain. Mereka memasok semua kebutuhan peternakan dalam bentuk pinjaman yang tidak memberatkan. Terbukti bahwa kejujuran dan kepercayaan bisa menjadi penolong kami,” tandas Sudirman yang mengimbuhkan dalam menjalankan bisnis tersebut dia hanya satu kali memakai fasilitas pinjaman dari bank sebesar Rp 250 juta. Baik pinjaman dari bank maupun dari pabrik semua sudah dilunasinya.

( Baca juga : Peralatan Kandang Ayam Moden Terbaik Di Indonesia, Malaysia, Brunei darussalam)

Dengan suksesnya sebagai pengusaha peternakan ayam ini, Sudirman semakin memberikan bukti bahwa seseorang bisa berjalan di dua kuadran (pengusaha dan karyawan) tanpa harus mengorbankan salah satunya. Di dunia pendidikan, prestasi pria sederhana ini juga melejit. Di tangannya, SMAN 53 Jakarta yang terletak di Jalan Cipinang Jaya II B ini menorehkan beberapa prestasi. Selain berhasil menyulap gedung lama menjadi gedung baru berlantai tiga yang cukup megah, SMAN 53 juga mencatat peningkatan prestasi yang cukup signifikan. Pada tahun lalu, SMAN 53 berhasil menduduki peringkat 15 dari seluruh SMA di DKI dari sebelumnya peringkat 40. Sedangkan untuk wilayah Jakarta Timur SMAN 53 berhasil meraih peringkat 8. Ini semua berkat ‘tangan dingin’ pria Payakumbuh tersebut.

www.DokterUnggas.com

One Comment

  1. sangat menginspirasi,, salam sukses selalu :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *