Mantan TKI Korsel Sukses Bisnis Peternakan Ayam Closed House Omset Milyaran

DOKTERUNGGAS.COM – Banyak jalan menuju sukses, Semua harus di awali dengan kerja keras dan tanpa patah semangat. Jika gagal harus mampu bangkit dari kegagalan.

Kreativitas yang dibarengi kegigihan serta keyakinan dapat berbuah kesuksesan. Seperti kisah mantan tenaga kerja Indonesia (TKI) dari Korea Selatan, Abdullah Hadi. Melalui bisnisnya di bidang peternakan ayam, Hadi berhasil meraup penghasilan hingga Rp 1 miliar per bulan.

Lelaki asal Pati, Jawa Tengah, itu memiliki 7 kandang ayam dengan kapasitas 200 ribu ekor. Dia mampu mengembangbiakkan ayam potong dengan tingkat keberhasilan tinggi. Perusahaan asal Korea Selatan, Ceil Jedang, pun tertarik menggandengnya untuk bekerja sama.

Tak hanya menjadi peternak ayam, Hadi juga berinovasi. Dia berhasil menggantikan tenaga listrik dengan diesel khusus pada penggerak blower di kandang. Dengan begitu, ongkos bisa ditekan dan stabilitas suhu bisa dijaga agar ayam tetap nyaman.

“Saya membuat kandang ayam tertutup yang sering dikenal dengan nama kandang closed house. Dengan sistem ini, kandang mampu menjaga stabilitas suhu dan kelembapan, serta kecepatan angin yang bisa kami atur sesuai dengan kebutuhan tubuh ayam sehingga ayam merasa nyaman. Dengan metode seperti ini, maka kematian ayam menjadi sangat minim,” ujar Hadi

peternak ayam sukses closed house

Hadi Di Kandang Closed House nya

Dengan usahanya tersebut, Hadi mampu meraup penghasilan hingga Rp 1 miliar setiap bulan. Kendati telah berhasil, Hadi tetap menyalurkan pengetahuan dan keterampilannya tersebut kepada orang lain. Sejumlah negara telah Hadi singgahi untuk memberikan inspirasi bagi WNI lainnya.

Selain memiliki usaha peternakan, Hadi diketahui memiliki lembaga pendidikan keterampilan bahasa Korea (SONAGI). “Saya selalu mendorong mantan TKI Korea Selatan tidak perlu balik lagi menjadi TKI. Mari bekerja dan memakmurkan negeri kita. Menjadi TKI cukup sekali saja,” tuturnya.

Cerita Perjalanan Suksesnya

Abdullah Hadi berangkat mengadu nasib ke Korea Selatan (Korsel) pada 1997. Modal ke Korsel ia peroleh dari menggadaikan sawah orang tua sebesar Rp 1,2 juta.

Selama 3 tahun di Korsel, Hadi bekerja di perusahaan terpal. Setelah 3 tahun mengais rezeki di Negeri Ginseng, Hadi pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Mimpinya saat itu menjadi pengusaha di bidang perikanan. Bermodal uang hasil kerja di Korsel Rp 130 juta, ia merintis bisnis lele.

“Angan-angan saya waktu pulang mau usaha perikanan, karena di daerah saya itu airnya melimpah,” ujar Hadi

Uang hasil kerja keras di Korsel sudah terpakai semua untuk membuka dan membangun bisnis lele. Sayang, Hadi justru gagal meraup pundi-pundi rupiah dari ternak lele, ia justru gagal di bisnis ini.

“Saya gagal pulang dari Korea. Cita-cita yang saya idamkan pulang dari Korea jadi pengusaha, gagal,” kata Hadi.

Bisnis ayam

Kemudian, Ia mendatangi Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) untuk mencari tahu program usaha bagi mantan TKI, dan ternyata ada yang namanyapemberdayaan TKI purna. Programnya adalah beternak ayam.

Setelah ikut program pemberdayaan, pada 2015 Hadi bersama 3 orang mantan TKI Korsel ingin membangun peternakan ayam modern, dengan kandang besar di atas lahan 100×10 meter persegi dan pengolahan limbah yang terintegrasi. Cuma mereka terbentur biaya, karena butuh sekitar Rp 1 miliar-Rp 2 miliar untuk bangun kandang seperti itu.

Lantas, BNP2TKI memberi solusi pinjaman usaha dari BNI dengan jaminan sertifikat tanah. Dalam seminggu uang Rp 2 miliar sudah ditangan dan kandang siap dibangun. Dua kandang ayam berukuran besar akhirnya terbangun.

Hadi bermitra dengan PT Super Unggas Jaya (Suja), anak usaha Cheil Jedang Feed Indonesia, perusahaan peternakan asal Korsel yang beroperasi di Indonesia. PT Suja memasok bibit ayam potong jenis Kop ke peternakan Hadi untuk dibesarkan.

Ternyata bisnis ini menggiurkan. Ayam siap panen di usia 22 hari dengan bobot 1 kg dan 29 hari dengan bobot 1,6 kg, dan dihargai Rp 4.000-Rp 5.000/ekor. Singkat cerita, saat ini sudah ada 24 kandang dengan populasi ayam sekitar 600.000 ekor.

Dalam menjalankan bisnis, Hadi menggandeng para mantan TKI Korsel sehingga mereka tak kembali lagi mencari rezeki di negeri orang. Para mantan TKI ini menjadi investor kandang dan ayam.

“Saya ingin mereka menjadi pengusaha di Indonesia, tak perlu kembali lagi bekerja di negeri orang,” tutur Hadi.

Satu kandang dimiliki 4 orang dengan populasi antara 30.000-40.000 ekor. Modal dari uang hasil kerja keras mereka di Korsel. Total omzet tiap kandang untuk setiap kali panen berkisar antara Rp 135 juta-Rp 180 juta/bulan.

Hadi juga punya ayam sendiri dengan populasi mencapai 220.000 ekor. Kini, Hadi menjalankan usahanya dengan nama Sonagi, artinya bersih-bersih dalam bahasa Indonesia. Lini bisnis Sonagi antara lain pelatihan bahasa Korea dan peternakan ayam.

(Baca juga : Kisah Sukses Peternak Ayam Pak Mulyono Ayam Ribuan Ekor, Profit Puluhan Juta KLIK DI SINI)

Salam Sukses !

DokterUnggas.com

Situs Dunia Unggas No.1 Di Indonesia

About dokter unggas

CV.Gavin Corporation adalah perusahaan penyedia produk peternakan unggas terbesar di Indonesia. kami menyediakan berbagai macam, peralatan kandang close house dan memberikan tips cara meningkatkan bobot broiler Hubungi Hp 0856 55 28 11 14

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *