Dari Kenek Sukses jadi Pengusaha Ayam Omset 500 juta Per Hari

Serang, (ANTARABanten) – Hidup bagaikan putaran roda pedati, kadang di atas kadang di bawah, pernah dialami Rudi Chandra (42), pengusaha sukses usaha ternak ayam pedaging, yang semasa mudanya setelah tamat SMA pernah menjadi buruh pabrik dan kenek mobil truk.Ungkapan tersebut tentu tidaklah selamanya berlaku bagi para pengusaha sukses yang mampu melihat peluang bisnis dan mau bekerja keras dan selalu mengedepankan kejujuran.

chicken1

Pria berdarah Minang ini mengaku setelah tamat SMA pada tahun 1991 di Jakarta, pernah menjadi buruh di sebuah pabrik di Cikarang selama enam bulan. Tidak betah jadi buruh kemudian mencoba jadi kenek mobil truk dan kadang-kadang jadi sopir.

“Kebetulan kepala unit tempat saya bekerja di Cikarang punya ternak ayam broiler, saya disuruh membawa ayam yang siap diantarkan ke pelanggan menggunakan truk. Saya jadi keneknya dan kadang-kadang jadi sopirnya,” kenang Rudi saat masih mengalami susah hidup di ibukota Jakarta.

Melihat keberhasilan bosnya berkecimpung di usaha ayam, Rudi pun tertarik untuk membuka ternak ayam sendiri. Gayung bersambut teman sesama buruh di Cikarang ikut mendukung dan mengajak Rudi membuka usaha ayam tersebut di kampung halamannya di Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

Menyewa lahan dengan sistem sewa Rp100/ekor/panen, mulailah Rudi pada tahun 1994 beternak ayam pedaging bekerja sama dengan penduduk sekitarnya di Kecamatan Walantaka, Kabupaten Serang, Banten, dengan modal awal sebanyak 1.500 ekor.

Laba yang diperoleh dari panen ayam sebagian untuk sewa lahan dan sebagian lagi ditabungnya. Jika sudah terkumpul banyak digunakan untuk membuat kandang dilahan warga yang disewanya dengan sistem sewa Rp100/ekor/panen. Begitu sistem beternak ia terapkan, sehingga masyarakat yang memiliki lahan “nganggur” bersedia menyediakan lahannya dengan sistem sewa tersebut.

Kesuksesan yang diraihnya ternyata tidak selalu mulus. Krisis moneter yang menimpa Indonesia pada Tahun 1997 dan 1998 ikut mengimbas usaha ternaknya sampai mengalami kebangkrutan.

“Bagaimana kami bisa bertahan kalau harga pakan ternak saja sampai dua kali lipat, belum lagi harga anak ayam, semuanya itu barang impor,” kata anak nomor dua dari enam bersaudara dari pasangan Rustam (alm) dan Nurhairi ini mengenang masa suramnya.

Ibarat putaran roda pedati, kehidupun Rudi kembali berada dibawah dan iapun sempat kembali mengenyam jadi kenek mobil ayam dan sekali-kali jadi sopir selama kurang lebih satu tahun.

Dari kenek ia mencoba berjualan ayam di Pasar Ciruas, Kota Serang. Awal berjualan memang tidak semulus yang diperkirakannya, bahkan pernah tak satupun ayam yang laku terjual, namun ia tak putus asa, dengan memberikan pelayanan baik kepada pembeli lambat laun dagangannya berjalan dengan pesat.

“Saya selalu memperhatikan keinginan pembeli dan bersikap jujur. Ayam yang dibeli dibersihkan dan ditimbang dengan benar dengan harga sesuai dengan harga pasar, dan pembeli ternyata senang dan puas, sehingga lambat laun pelanggan menjadi banyak,” kata Rudi yang pada 1998 mempersunting Iceu Warsiah, gadis pemilik tanah tempat ia beternak ayam dahulu.

Kerja Keras dan Jujur

Hidup bahagia dengan anak pemilik tanah, Rudi semakin bersemangat terjun di usaha ayam. Iapun tidak lagi hanya sekedar menjual ayam, tetapi juga menjadi pengumpul, bahkan ia tidak segan-segan mengirim ayam sendiri ke pemesan dari satu rumah makan ke rumah makan lainnya.

“Dari jualan ayam ini saya bisa beli mobil box, dan memutuskan menjadi agen/broker ayam, dan pada saat itu saya memiliki lima pelanggan,” katanya.

Tahun terus berjalan, Rudi yang dikaruniai tiga anak itu memutuskan untuk kembali beternak ayam dengan sebagian menggunakan lahan milik mertuanya, dan kini tidak sedikit lahan yang dibeli dari hasil keuntungan usaha dan sebagian pinjam dana dari Bank Central Asia (BCA) untuk mendirikan kandang ayam (pengembangan usaha).

Dari pengalamannya sebagai peternak, tidak begitu sulit bagi ayah dari Dea Pratiwi (SMP kelas IX), Berliana Sasabila (SD kelas III) dan Muhammad Dafa Wibawa (4) untuk mengembangkan usaha ayam.

Saat ini Rudi yang aktif di kepemudaan dikampungnya sehingga diangkat sebagai Ketua Pemuda dan Ketua Pembina Karang Taruna itu sudah memiliki 17 lokasi peternakan ayam tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Serang.

Satu lokasi di isi antara 10.000 sampai dengan 40.000 ekor. “Total lahan untuk peternakan ayam ada sekitar 15 hektare, tapi tidak semuanya dikampung ini, ada di kecamatan lain,” kata Rudi yang kini hidup bahagia dengan istri tercinta dan tiga anak kesayangannya di sebuah rumah mewah di Kampung Lebak, Kelurahan Lebakwangi RT09 RW04, Kecamatan Walantaka, Kabupaten Serang.

Pemilik perusahaan PD Hiber ini sepertinya tidak pernah puas dengan usahanya yang terus mengalami perkembangan tersebut. Ia terus bekerja keras dan memperluas usahanya, dan selalu mendapat dukungan dari pihak bank karena kepatuhannya membayar cicilan tepat waktu.

Dengan hasil pinjaman dari bank BCA yang terus mengalir mulai Rp50 juta, kemudian diberi lagi Rp400 juta, setelah lunas dipinjamkan lagi Rp1 miliar dan terakhir ia memperolah Rp3,5 miliar.

“Dana sebesar itu digunakan sebagian untuk pengembangan usaha dan sebagian lagi untuk biaya operasional,” kata Rudi.

Di sela-sela kesibukan Rudi masih aktif mengikuti kegiatan di  masjid sehingga ia pun ditunjuk sebagai Ketua Dewan keluarga Masjid (DKM) itu hampir seluruh karyawannya direkrut dari pemuda di sekitarnya, dan ia berobsesi ingin memberdayakan masyarakat sekitarnya sehingga dapat mengurangi pengangguran.

Setelah memiliki banyak ternak, iapun mendirikan pula tempat pembudidayaan ternak dan rumah potong ayam (RPA) yang dibangunnya dari modal yang diperoleh dari pinjaman bank tersebut, dan kini ia telah mampu menjalankan rumah potong ayam tersebut dengan sistem (rol berjalan) mulai dari tempat pemotongan ayam, tempat pembersihan kulit ayam sampai ke tempat pembungkusan ayam dengan melibatkan sejumlah karyawan.

Ayam yang telah dikemas dalam plastik kemudian dimasukkan kedalam ruang pendingin, untuk selanjutnya dikirim kepada pelanggan yang tidak hanya berada di Serang, tetapi juga berada di Jakarta, bahkan sampai dikirim ke Batam.

“Kami mengantisipasi bahwa nanti pemerintah menerapkan peraturan tentang pembatasan hewan hidup yang masuk ke Jakarta, sehingga dari sekarang kami mencoba menjual ayam yang sudah disembelih terlebih dahulu ke Jakarta dalam bentuk kemasan,” kata Rudi yang bercita-cita ingin memberdayakan masyarakat lokal sekitarnya melalui usaha peternakan dan meningkatkan lapangan kerja.

Keberhasilan Rudi beternak ayam mendapat sambutan positif dari pemerintah kabupaten setempat sehingga acapkali ia diundang oleh instansi terkait sebagai pembicara dalam suatu seminar, bahkan ia ditunjuk sebagai Ketua Pembina Asosiasi peternakan (Aster) Kota Serang.

Berapa omzet yang diperoleh Rudi saat ini?. “Kalau pada Tahun 2004 itu dengan aset sekitar Rp5 miliar diperoleh omzet sekitar Rp200 juta per hari, dan kini pada Tahun 2012 saya sudah memiliki aset sekitar Rp20 miliar dengan omzet sekitar Rp500 juta per hari, dan mempekerjakan sebanyak 70 karyawan,” kata Rudi.

 

About dokter unggas

CV.Gavin Corporation adalah perusahaan penyedia produk peternakan unggas terbesar di Indonesia. kami menyediakan berbagai macam, peralatan kandang close house dan memberikan tips cara meningkatkan bobot broiler Hubungi Hp 0856 55 28 11 14

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by Nirvana & WordPress.
23:18